Pendudukan Israel atas Palestina, Sampai Kapan?
Kamis, 02 November 2017 16:00
Hingga
tahun 2017 ini pendudukan Israel atas Palestina sudah berlangsung selama
lima puluh tahun. Pelanggaran demi pelanggaran terus dilakukan oleh
Israel. Warga Palestina dipersekusi, diusir, bahkan dibunuh. Semua
aktifitas warga Palestina diawasi oleh Israel hingga detik ini. Semuanya
diatur oleh Israel: suplai air, makanan, dan kebutuhan lainnya. Bahkan
untuk pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya pun warga Palestina
harus mengantongi izin dari Israel.
Dunia
internasional mengecam dan mengutuk apa yang dilakukan Israel. Meski
demikian, Israel sepertinya tidak menghiraukannya. Ia terus saja
melakukan ‘kejahatan kemanusiaan’ dan perampokan hak asasi manusia warga
Palestina.
Perhatian dan dukungan dunia untuk Palestina
seolah tak pernah surut. Palestina memiliki wilayah yang sangat
strategis: pusat tiga agama Abrahamik (Islam, Kristen, dan Yahudi),
pusat wisata dunia, dan pusat peradaban dunia. Selain itu, konflik
Palestina-Israel bukan hanya soal agama, tetapi juga kemanusiaan.
Ada
banyak negara yang mengecam Israel dan mendukung Palestina. Indonesia
adalah salah satunya. Sikap Indonesia tegas terhadap Israel. Yaitu
menutup hubungan diplomasi dengan Israel selama Palestina belum
merdeka.
Namun yang menjadi pertanyaan adalah
sampai kapan konflik Palestina-Israel akan berakhir? Untuk menciptakan
perdamaian di sana harus dimulai mana? Dan apakah yang sudah dilakukan
Indonesia untuk Palestina sudah cukup?
Untuk menjawab itu, Jurnalis NU Online
A Muchlishon Rochmat berkesempatan mewawancarai Direktur Sekolah Kajian
Ilmu Stratejik dan Global Universitas Indonesia (UI) Muhammad Luthfi
Zuhdi.
Hingga
hari ini, konflik Palestina dan Israel masih berlarut-larut dan tidak
kunjung usai. Apa sebetulnya penyebab konflik Palestina dan Israel?
Ada
banyak faktor. Pertama, Israel sendiri memiliki ambisi untuk menjadi
negara besar di situ. Selalu merasa tidak cukup dengan tanah yang mereka
miliki. Israel bukan hanya mencaplok wilayah Palestina, tetapi juga
mencaplok negara-negara di sekitarnya. Bahkan, pendudukan Israel
seharusnya sampai Madinah dan Irak.
Kedua,
negara-negara besar belum memiliki minat untuk mendukung Negara
Palestina yang merdeka. Kunci-kunci hubungan internasional yang ada di
muka bumi ini adalah negara-negara besar. Pengakuan mereka sangat
menentukan di PBB. Kalau mereka tidak menyetujui, maka Negara Palestina
tidak akan berdiri.
Israel
seringkali melanggar kesepakatan-kesepakatan internasional, namun
sepertinya Israel tidak mendapat hukuman. Bagaimana itu?
Banyak
orang yang melakukan protes, tetapi itu seperti orang yang teriak di
gurun pasir. Apapun protes yang ditujukan kepada Israel, tetapi Israel
terus jalan terus. Dan Israel didukung oleh negara-negara besar,
khususnya Amerika. Sehingga protes tersebut tidak membuahkan hasil
apapun.
Selama negara-negara besar tidak
memiliki iktikad untuk memberikan hak kemerdekaan kepada Palestina, maka
Negara Palestina tidak akan pernah terwujud karena hak veto dikuasai
oleh negara-negara besar.
Bagaimana Anda membaca situasi dan kondisi Palestina kini terutama setelah Fatah dan Hamas berdamai?
Saya
menghimbau agar mereka belajar Indonesia. Bagaimana berdemokrasi,
bagaimana menyikapi perbedaan pendapat. Timur Tengah tidak terbiasa
dengan demokrasi. Katakan mereka berdemokrasi, pemilihan umum di Mesir.
Ketika menang, mereka mengambil seluruhnya. Lalu, kemudian ada upaya
untuk saling menghilangkan posisi orang lain. Ini bahaya kalau itu yang
terjadi.
Kalau misalnya mereka melakukan
pemilihan umum. Kemudian satu kelompok Hamas menang, lalu ia meniadakan
yang lain dengan tidak memberikan posisi mesti akan terjadi sebuah
konflik yang lebih besar lagi. Jadi harus dibagi posisinya. Yang menang
jangan mengambil semuanya, tetapi harus berbagi kepada yang lain.
Seperti di Indonesia bahwa yang menang tidak mengambil semuanya.
Hingga
saat ini Indonesia tetap konsisten mendukung dan membantu Palestina
–baik dalam tataran diplomasi ataupun bantuan logistik, kesehatan, dan
pendidikan- serta menentang Israel. Menurut Anda, apakah yang dilakukan
Indonesia sudah cukup?
Untuk ukuran
tertentu sudah cukup baik, tetapi artinya bukan cukup. Namun Pemerintah
Indonesia perlu didorong terus. Indonesia tidak boleh berhenti di
tempat. Indonesia harus jalan terus. Apa yang sudah dilakukan hingga
saat ini sudah bagus, meskipun harus dilakukan peningkatan-peningkatan.
Seperti pelatihan capacity building terhadap warga Palestina. Ini sudah
bagus tetapi harus ditingkatkan. Sehingga ketika mereka merdeka nanti
mereka siap untuk bekerja.
Jika dibandingkan
dengan negara lain, Indonesia adalah negara yang tidak menyukai hal-hal
provokatif. Indonesia tidak suka ngomong kesana kemari. Tetapi terus
konsisten mendukung Palestina. Ini dirasakan oleh pejabat Palestina
sendiri dan mereka menganggap Indonesia sebagai negara yang paling
konsisten mendukungnya baik di lapangan maupun di dunia diplomatik serta
dalam perjanjian-perjanjian.
Kalau belum cukup, apa lagi yang seharusnya dilakukan Indonesia?
Pertanyaan
saya apakah Indoensia sudah waktunya untuk mencoba masuk ke wilayah
yang lebih dalam bagaimana terlibat dalam menciptakan perdamaian di
Timur Tengah tersebut. Namun itu tidak mudah karena masalah Palestina
itu seperti blackhole, apapun yang masuk hilang di situ. Indonesia
harus hati-hati dalam hal ini.
Namun demikian,
Indonesia memiliki pengalaman untuk mendamaikan beberapa negara seperti
Kambodia dan Filipina Selatan. Bahkan mendamaikan konflik yang ada di
Indonesia sendiri. Kita berhasil menyelesaikan konflik di Ambon, Poso,
dan Aceh. Tidak banyak yang memiliki pengalaman ini sebagaimana yang
Indonesia miliki. Dengan modal itu, Indonesia diharapkan bisa memberikan
masukan kepada mereka.
Apakah Indonesia terkena dampak langsung dari konflik Palestina-Israel itu?
Dalam
hal-hal tertentu ada. Indonesia sudah seharusnya mendukung Palestina.
Pertama, di dalam konstitusi kita bahwa Indonesia anti penjajahan.
Kedua, sejarah membuktikan bahwa orang yang pertama mengakui dan
mendukung kemerdekaan Indonesia adalah Palestina. Ketiga, ini adalah
bukan hanya masalah agama saja, tetapi juga masalah kemanusiaan.
Kalau
Indonesia kurang mendukung Palestina, maka ini dijadikan sebagai alat
politik oleh oposisi untuk menjatuhkan pemerintahan. Atau paling tidak
memojokkan pemerintah karena kurang mendukung Palestina. Artinya, ini
bisa menjadi isu politik. Itu dampak langsungnya bagi Indonesia.
Sedangkan
dampak lainnya adalah ada puluhan ribu orang Indonesia yang berkunjung
ke Yerussalem. Menurut perhitungan yang saya baca, lebih dari enam puluh
ribu orang Indonesia pergi ke Yerussalem setiap tahunnya. Ini berdampak
langsung kepada ekonomi pariwisata Israel. Semakin banyak yang datang
ke Yerussalem, maka semakin banyak yang didapat Israel.
Kalau dampak ekonomi Israel kepada Indonesia?
Mungkin
tentang perdagangan yang jumlahnya belum tahu persis karena itu tidak
terbuka. Produk-produk Israel sendiri masuk ke Indonesia bisa melalui
negara ketiga. Seperti produk Indonesia dulu saat diekspor ke Amerika
dan Eropa juga melalui Singapura. Banyak produk Israel yang bagus dan
unggul seperti alat-alat pertanian. Indonesia sebagai negara pertanian
tidak bisa lepas dari itu.
Hingga
tahun 2017 ini pendudukan Israel atas Palestina sudah berlangsung selama
lima puluh tahun. Pelanggaran demi pelanggaran terus dilakukan oleh
Israel. Warga Palestina dipersekusi, diusir, bahkan dibunuh. Semua
aktifitas warga Palestina diawasi oleh Israel hingga detik ini. Semuanya
diatur oleh Israel: suplai air, makanan, dan kebutuhan lainnya. Bahkan
untuk pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya pun warga Palestina
harus mengantongi izin dari Israel.
Dunia
internasional mengecam dan mengutuk apa yang dilakukan Israel. Meski
demikian, Israel sepertinya tidak menghiraukannya. Ia terus saja
melakukan ‘kejahatan kemanusiaan’ dan perampokan hak asasi manusia warga
Palestina.
Perhatian dan dukungan dunia untuk Palestina
seolah tak pernah surut. Palestina memiliki wilayah yang sangat
strategis: pusat tiga agama Abrahamik (Islam, Kristen, dan Yahudi),
pusat wisata dunia, dan pusat peradaban dunia. Selain itu, konflik
Palestina-Israel bukan hanya soal agama, tetapi juga kemanusiaan.
Ada
banyak negara yang mengecam Israel dan mendukung Palestina. Indonesia
adalah salah satunya. Sikap Indonesia tegas terhadap Israel. Yaitu
menutup hubungan diplomasi dengan Israel selama Palestina belum
merdeka.
Namun yang menjadi pertanyaan adalah
sampai kapan konflik Palestina-Israel akan berakhir? Untuk menciptakan
perdamaian di sana harus dimulai mana? Dan apakah yang sudah dilakukan
Indonesia untuk Palestina sudah cukup?
Untuk menjawab itu, Jurnalis NU Online
A Muchlishon Rochmat berkesempatan mewawancarai Direktur Sekolah Kajian
Ilmu Stratejik dan Global Universitas Indonesia (UI) Muhammad Luthfi
Zuhdi.
Hingga
hari ini, konflik Palestina dan Israel masih berlarut-larut dan tidak
kunjung usai. Apa sebetulnya penyebab konflik Palestina dan Israel?
Ada
banyak faktor. Pertama, Israel sendiri memiliki ambisi untuk menjadi
negara besar di situ. Selalu merasa tidak cukup dengan tanah yang mereka
miliki. Israel bukan hanya mencaplok wilayah Palestina, tetapi juga
mencaplok negara-negara di sekitarnya. Bahkan, pendudukan Israel
seharusnya sampai Madinah dan Irak.
Kedua,
negara-negara besar belum memiliki minat untuk mendukung Negara
Palestina yang merdeka. Kunci-kunci hubungan internasional yang ada di
muka bumi ini adalah negara-negara besar. Pengakuan mereka sangat
menentukan di PBB. Kalau mereka tidak menyetujui, maka Negara Palestina
tidak akan berdiri.
Israel
seringkali melanggar kesepakatan-kesepakatan internasional, namun
sepertinya Israel tidak mendapat hukuman. Bagaimana itu?
Banyak
orang yang melakukan protes, tetapi itu seperti orang yang teriak di
gurun pasir. Apapun protes yang ditujukan kepada Israel, tetapi Israel
terus jalan terus. Dan Israel didukung oleh negara-negara besar,
khususnya Amerika. Sehingga protes tersebut tidak membuahkan hasil
apapun.
Selama negara-negara besar tidak
memiliki iktikad untuk memberikan hak kemerdekaan kepada Palestina, maka
Negara Palestina tidak akan pernah terwujud karena hak veto dikuasai
oleh negara-negara besar.
Bagaimana Anda membaca situasi dan kondisi Palestina kini terutama setelah Fatah dan Hamas berdamai?
Saya
menghimbau agar mereka belajar Indonesia. Bagaimana berdemokrasi,
bagaimana menyikapi perbedaan pendapat. Timur Tengah tidak terbiasa
dengan demokrasi. Katakan mereka berdemokrasi, pemilihan umum di Mesir.
Ketika menang, mereka mengambil seluruhnya. Lalu, kemudian ada upaya
untuk saling menghilangkan posisi orang lain. Ini bahaya kalau itu yang
terjadi.
Kalau misalnya mereka melakukan
pemilihan umum. Kemudian satu kelompok Hamas menang, lalu ia meniadakan
yang lain dengan tidak memberikan posisi mesti akan terjadi sebuah
konflik yang lebih besar lagi. Jadi harus dibagi posisinya. Yang menang
jangan mengambil semuanya, tetapi harus berbagi kepada yang lain.
Seperti di Indonesia bahwa yang menang tidak mengambil semuanya.
Hingga
saat ini Indonesia tetap konsisten mendukung dan membantu Palestina
–baik dalam tataran diplomasi ataupun bantuan logistik, kesehatan, dan
pendidikan- serta menentang Israel. Menurut Anda, apakah yang dilakukan
Indonesia sudah cukup?
Untuk ukuran
tertentu sudah cukup baik, tetapi artinya bukan cukup. Namun Pemerintah
Indonesia perlu didorong terus. Indonesia tidak boleh berhenti di
tempat. Indonesia harus jalan terus. Apa yang sudah dilakukan hingga
saat ini sudah bagus, meskipun harus dilakukan peningkatan-peningkatan.
Seperti pelatihan capacity building terhadap warga Palestina. Ini sudah
bagus tetapi harus ditingkatkan. Sehingga ketika mereka merdeka nanti
mereka siap untuk bekerja.
Jika dibandingkan
dengan negara lain, Indonesia adalah negara yang tidak menyukai hal-hal
provokatif. Indonesia tidak suka ngomong kesana kemari. Tetapi terus
konsisten mendukung Palestina. Ini dirasakan oleh pejabat Palestina
sendiri dan mereka menganggap Indonesia sebagai negara yang paling
konsisten mendukungnya baik di lapangan maupun di dunia diplomatik serta
dalam perjanjian-perjanjian.
Kalau belum cukup, apa lagi yang seharusnya dilakukan Indonesia?
Pertanyaan
saya apakah Indoensia sudah waktunya untuk mencoba masuk ke wilayah
yang lebih dalam bagaimana terlibat dalam menciptakan perdamaian di
Timur Tengah tersebut. Namun itu tidak mudah karena masalah Palestina
itu seperti blackhole, apapun yang masuk hilang di situ. Indonesia
harus hati-hati dalam hal ini.
Namun demikian,
Indonesia memiliki pengalaman untuk mendamaikan beberapa negara seperti
Kambodia dan Filipina Selatan. Bahkan mendamaikan konflik yang ada di
Indonesia sendiri. Kita berhasil menyelesaikan konflik di Ambon, Poso,
dan Aceh. Tidak banyak yang memiliki pengalaman ini sebagaimana yang
Indonesia miliki. Dengan modal itu, Indonesia diharapkan bisa memberikan
masukan kepada mereka.
Apakah Indonesia terkena dampak langsung dari konflik Palestina-Israel itu?
Dalam
hal-hal tertentu ada. Indonesia sudah seharusnya mendukung Palestina.
Pertama, di dalam konstitusi kita bahwa Indonesia anti penjajahan.
Kedua, sejarah membuktikan bahwa orang yang pertama mengakui dan
mendukung kemerdekaan Indonesia adalah Palestina. Ketiga, ini adalah
bukan hanya masalah agama saja, tetapi juga masalah kemanusiaan.
Kalau
Indonesia kurang mendukung Palestina, maka ini dijadikan sebagai alat
politik oleh oposisi untuk menjatuhkan pemerintahan. Atau paling tidak
memojokkan pemerintah karena kurang mendukung Palestina. Artinya, ini
bisa menjadi isu politik. Itu dampak langsungnya bagi Indonesia.
Sedangkan
dampak lainnya adalah ada puluhan ribu orang Indonesia yang berkunjung
ke Yerussalem. Menurut perhitungan yang saya baca, lebih dari enam puluh
ribu orang Indonesia pergi ke Yerussalem setiap tahunnya. Ini berdampak
langsung kepada ekonomi pariwisata Israel. Semakin banyak yang datang
ke Yerussalem, maka semakin banyak yang didapat Israel.
Kalau dampak ekonomi Israel kepada Indonesia?
Mungkin
tentang perdagangan yang jumlahnya belum tahu persis karena itu tidak
terbuka. Produk-produk Israel sendiri masuk ke Indonesia bisa melalui
negara ketiga. Seperti produk Indonesia dulu saat diekspor ke Amerika
dan Eropa juga melalui Singapura. Banyak produk Israel yang bagus dan
unggul seperti alat-alat pertanian. Indonesia sebagai negara pertanian
tidak bisa lepas dari itu.
sumber : http://www.nu.or.id/post/read/82864/pendudukan-israel-atas-palestina-sampai-kapan
No comments:
Post a Comment